KEMAMPUAN MENULIS

Pekerjaan sebagai aktivis adalah pekerjaan yang penuh dengan dinamika. Bahkan bagi banyak pihak mengatakan sebagai aktivis adalah sebagai agent of change, ya sebuah agen perubahan sesuai dengan isu yang masing-masing mereka bawa. Namun, jika kita sedikit berpikir mengenai arti dari transformasi sosial yang dilakukan, sebenarnya dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan perubahan yang lebih besar.

Artinya, menjadi aktivis tidak harus melulu berkutat di depan komputer dan menyelesaikan semua bentuk laporan, namun harus memberi fungsi pencerahan sosial, misalnya dengan menjadi penulis, menjadi pembicara, menggerakkan komunitas, atau bermain di kancah politik. Artinya, kita akan menjadi aktivis dalam arti yang sesungguhnya, bukan sekadar money-seeker dari dana hibah program. Dan dalam beberapa hal sudah menjadi potongan puzzle dalam sebuah gerakan sosial menuju perubahan.

Dan salah satu yang keahlian yang paling tidak harus dikuasai oleh seorang aktivis adalah menjadi penulis. Karena aktivis sebagian kehidupannya selalu berhadapan dengan realitas sosial. Mulai dari assessment, pengorganisasian, hingga kampanye, seorang aktivis berkomunikasi dengan basis massa. Bahkan, aktivis yang dijuluki sang organizer bergabung dan hidup bersama dengan basis massa. Kedekatan dengan realitas sosial itu memberi peluang bagi aktivis untuk mengenali fakta-fakta realitas sosial yang menyangkut kepentingan publik yang dapat dijadikan berita.

Tak dapat dimungkiri sang aktivis tersebut banyak mengetahui seluk beluk kehidupan basis massa yang didampinginya. Ia bisa menceritakan hampir semua persoalan kehidupan yang dihadapi basis massa tersebut antara lain persoalan pangan, papan, dan pakaian. Namun pengenalan sang aktivis terhadap persoalan basis massa terlalu generalis. Umumnya, persoalan yang diketahui aktivis tak fokus. Tak ada persoalan yang diketahuinya secara mendalam. Sehingga fakta-fakta dan informasi yang dimiliki sang aktivis tersebut tak cukup untuk dijadikan berita. Laporan sang aktivis erat kaitannya dengan pengetahuan aktivis tersebut terhadap persoalan dan realitas sosial yang dihadapinya. Di era sekarang ini aktivis sudah terbiasa membuat laporan kegiatan yang telah dilakukannya kepada kantornya. Namun laporan-laporan aktivis seringkali tak dapat dijadikan berita untuk media internal apalagi untuk media meanstream.

Laporan yang disampaikan aktivis sangat jarang menggambarkan situasi dan realitas sosial secara mendalam. Ketika melaporkan kodisi kehidupan masyarakat desa, aktivis tak bisa memaparkan kondisi masyarakat secara detil. Aktivis sering membuat kesimpulan tentang kondisi masyarakat tanpa mewawancarai masyarakat itu sendiri. Sekalipun, aktivis kadang mewawancarai salah seorang warga, celakanya kerap aktivis tersebut tidak menyebut nama dan umur narasumber (warga).

Bahkan aktivis tersebut tak menceritakan di mana wawancara berlangsung dan bagaimana situasinya. Inilah menjadi alasan perlunya seorang aktivis dibekali dengan pelatihan jurnalistik. Jurnalistik merupakan kegiatan menulis berita. Pelatihan jurnalistik diharapkan dapat mendorong aktivis agar mendalami persoalan-persoalan kehidupan basis secara mendalam. Aktivis juga diharapkan mampu menuliskan fakta-fakta realitas sosial menjadi berita. Untuk itulah aktivis harus lah memiliki kemampuan untuk menulis. Bagi sebagian aktivis menulis adalah hal mudah namun bagi sebagian lainnya adalah hal yang cukup jarang dilakukan oleh mereka. Namun paling tidak adalah hal-hal yang aktivis temui dalam setiap aktivitas keseharian mereka bisa menjadi motivasi tersendiri dalam kemauan mereka untuk menulis. Paling tidak untuk membiasakan diri kita masing-masing untuk menulis secara rutin, apa pun temanya, dimana pun dan siapapun kita.

Ada beberapa manfaat yang dapat kita ambil dari kebiasaan kita menulis antara lain adalah :

1. Menulis menurut Thomas Tyner dalam bukunya Writing Voyage, bahwa menulis adalah seni mendayung gagasan, pikiran, pengetahuan dan pengalaman menjadi sebuah tulisan. Kebiasaan menulis dan menuangkan pikiran dalam menulis dapat menjadi sebuah rangsangan untuk membaca, bukan hanya membaca buku ataupun bahan-bahan literatur lain tapi juga dapat “membaca” lingkungan sekitar kita.

2. Menulis berarti mengembangkan pemikiran kita, “senaif” dan “sedangkal” apapun itu. Seperti yang Soe Hok Gie pernah bilang “mahasiswa seharusnya seperti koboi, yang jika ada masalah di kota akan datang menyelesaikan masalah itu dan jika masalahnya sudah diatasi, maka sang koboi harus kembali berkelana” yang ternyata malah membuatkan jalan bebas hambatan untuk sebuah sistem melakukan penyelewangan kekuasaan atau orang-orang yang dulunya penopang utama kerusakan berganti kulit menjadi sosok yang reformis. Kenaifan pemikiran ini terbukti di tahun 1998, ketika mahasiswa mampu menggulirkan era reformasi. Trauma dengan apa yang dilakukan oleh pendahulunya – Angkatan ’66 – sebagaian besar mahasiswa Angkatan ’98 memutuskan tidak akan terlibat dalam pengelolaan Negara, mulai dari perumusan sistem yang akan diusung kedepan, pengawalan nilai-nilai yang diperjuangkan sampai kepada menjadi bagian penentu kebijakan. Keputusan yang diakui oleh mereka terinspirasi oleh pemikiran Soe Hok Gie ini, akhirnya kita tahu berakibat fatal. Jerih payah mahasiswa beserta elemen masyakarat lainnya akhirnya dinikmati oleh orang atau kelompok yang mempunyai track record sebagai penyangga kekuasaan dan kekuatan Orde Baru sehingga kebijakan yang diambil pemerintah saat ini sangat tidak berpihak kepada mahasiswa dan rakyat. Lalu, jika pemikiran yang naïf seperti itu mampu menjadi inspirasi bagi gerakan mahasiswa 32 tahun sesudahnya, apalagi pemikiran-pemikiran aktivis pada saat ini. Pernahkah kita membayangkan bahwa kelak tulisan kita tentang pemikiran,gagasan dan ide kita terhadap solusi bagi problematika lingkungan hidup dan permasalahan sosial lainnya akan menjadi referensi abadi bagi generasi mendatang ?. dan tentunya peluang bagi para aktivis yang selalu memompakan semangat serta militansi yang tak habis-habis bagi kita yang membacanya.

3. Menulis juga merupakan suatu propaganda untuk mengabadikan sejarah itu sendiri : dari mana ia tumbuh, kemana tujuan yang akan dicapai dan sumbangan-sumbangan kerja serta pemikiran apa yang sudah diberikan bagi kita semua. Sesuatu yang sangat strategis pada masa kini dan harapannya pada masa yang akan datang.

Dan dalam dunia NGO juga pasti akan ditemui yang namanya tipologi deskripsi tugas dan tanggung jawab dan salah satunya adalah kampanye, Jenis divisi, departemen atau apapun namanya itu yang berhubungan dengan sebuah kampanye dalam NGO banyak mengandalkan keterampilan komunikasi verbal dan non-verbal untuk berhubungan dengan publik, lembaga donor, atau ornop lainnya. Seorang campaigner bertugas untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran publik terhadap suatu hal. Cara ini adalah upaya untuk merubah pola pikir atau mindset masyarakat, atau dengan kata lain melakukan perubahan sosial secara jangka panjang. Misalnya, seorang campaigner lingkungan hidup akan berusaha merubah pola pikir masyarakat mengenai penggunaan energi yang berlebihan untuk mengurangi dampak pemanasan global. Pekerjaannya lebih banyak di lapangan, misalnya memutar film mengenai pemanasan global kepada anak-anak, membagi-bagi merchandise, buku, atau cara-cara populer lainnya. Seorang campaigner yang baik juga seharusnya dapat menulis di media massa mengenai isu yang diperjuangkan secara rutin, sehingga suara-suara kepedulian terhadap satu isu dapat terus muncul.

Terakhir, selamat mendayung untuk menjadikan ide, pemikiran, pengetahuan serta pengalaman kita semua menjadi sebuah tulisan. Jangan malu dan takut..mari, kita hidupkan kembali tradisi menulis di antara kita. semoga bermanfaat..

dwitho frasetiandy Banjarbaru, 09-09-09, 23.55 wita.

About these ads