Alangkah Lucunya Negeri Ini..  (Sebuah Ulasan Singkat Sebuah Film)

Judul filmnya sama dengan judul dari note di atas ini ya “alangkah lucunya negeri ini”, sebuah film kritik sosial yang menurut saya menghantam langsung para pengambil kebijakan negeri ini.

Cerita ini berfokus pada Muluk (Reza Rahardian) seorang Sarjana Manajemen yang sedang mencari pekerjaan ke sana kemari namun tanpa mendapatkan pekerjaan, sampai suatu ketika dia bertemu dengan komet (seorang bocah pencopet) yang lalu membawanya kepada sebuah “gerombolan pencopet anak” yang “dibos-in” sama bang Jarot (Tio Pakusadewo).

Singkat cerita Muluk akhirnya “bekerja” untuk meningkatkan harkat dan martabat para pencopet anak-anak tersebut dengan cara mengajari sebuah “manajemen mencopet” (hahaha…istilah gw doank ini mah), system yang dibangun muluk adalah dengan menyisihkan hasil copetan per-hari sebesar 10% untuk honor dia dan sisanya ditabung ke bank yang hasilnya nanti akan dijadikan modal agar para pencopet muda ini tidak mencopet lagi dan mendapatkan uang “halal” dari berusaha lain seperti pedagang asongan..sungguh cita2 mulia yang ga semua orang bisa dan paham apa yang dilakukan..(saluteee..walau cm di film hehe…)

Ada begitu banyak hal yang dapat dipetik dari film ini terutama kritik sosialnya, seperti..

Petama, kritik tentang sindiran hampir disepanjang film tentang mengguritanya korupsi kakap di negeri ini menyebabkan ketidakadilan bagi banyak masyarakat miskin di negeri ini, pencopet kalau ketangkep bisa mati tapi kalo koruptor ketangkep ga akan mati dan keluar penjara bisa tetap kaya, ironis bangetttt dan itu pas sama kondisi sekarang kan…???

Kedua, begitu sulitnya mencari lahan pekerjaan bagaimana seorang muluk lulusan manajemen, pipit seorang lulusan universitas keagamaan dan satu lagi seorang sarjana pendidikan yang kerjanya hanya main gaple saja, kritik pedas dilayangkan bagaimana negeri ini tidak mampu menyediakan cukup lapangan pekerjaan bagi jutaan lulusan sarjanannya..miris…

Ketiga, adalah bagaimana Negara tidak mampu menjamin kehidupan fakir miskin dan anak-anak terlantar sesuai dengan amanah UUD dasar 1945 pasal 34, bagaimana koruptor malah dipelihara Negara sedangkan anak-anak jalanan masih saja banyak berkeliaran di jalan-jalan.

Keempat, permasalahan haram dan halalnya penghasilan dari seorang pencopet yang mencoba mengais rezeki di beratnya kehidupan ibukota, “Cuma” untuk makan sehari-hari saja, sedangkan para koruptor dengan asyiknya duduk di gedung wakil rakyat sana dan gedung-gedung pemerintahan lainnya. Saya sepakat bahwa haram dan halalnya sesuatu bukan ditentukan sama MUI atau ormas keagamaan lain, tapi sama yang diatas, silahkan jika ada yang mendebat hehe..??

Lalu ada juga adegan terkahir bagaimana anak-anak pedangan asongan dikejar-kejar SATPOL PP hanya karena mereka berdagang asongan dan “mungkin” melanggar perda kota Jakarta, dan bagaimana sebuah perda dapat “mengalahkan” kepentingan masyarakat kelas bawah untuk mendapatkan sesuap nasi…ampuuuuun pemerintahhhh….

Film ini bagus untuk melihat lagi bagaimana “sakitnya” negeri ini, seperti kata Deddy Mizwar sang sutradara menyebutnya sebagai refleksi realita sosial. Menurut Deddy, film ini merupakan cermin untuk bisa menertawakan diri sendiri, tanpa perlu menuduh orang. “Dengan begitu orang bisa lebih bijak,” kata Deddy.

Ya menertawakan negeri ini hahahaha…agar kita lebih peka lagi dengan permasalahan yang sangat akut melanda negeri ini.

Saya sangat menyarakan untuk menonton film ini terlepas dari kekurangan film ini tapi tidak mengurangi substansi makna yang ingin disampaikan film ini. film yang memotret kehidupan para pencopet sebenarnya dibuat untuk menggambarkan rasa pesimistis yang dialami masyarakat dengan kejadian-kejadian saat ini. Karena itu, Deddy sengaja membuat film yang bisa menumbuhkan rasa optimistis. “Orang boleh benci kepada pemimpinnya atau kelompok. Tapi, kita tetap harus cinta kepada Tanah Air,” ujarnya.

Film ini juga bagai menjadi air di padang gersang industri perfilman negeri ini yang diserbu dengan film-film rendah kualitas macam film-film hantu yang menjurus mesum dan tak mendidik (aneh..hantu koq mesum wakakaka..) dan serbuan film-film cinta-cintaan yang membuat kaum muda negeri ini seakan di buai dengan hal-hal semu tanpa pernah melihat apa yang nyata terjadi di sekitar mereka.

Banjarbaru, 17 April 2010
21. 44 Wi

About these ads