Ego, Superego, dan Id

Menurut Sigmund Freud (6 Mei 1856 – 23 September 1939), perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa aliran teori Freud tentang sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik. Namun demikian menurut Gerald Corey yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan tertumpu pada dialektika antara sadar dan tidak sadar, determinisme yang telah dinyatakan pada aliran Freud luluh. Lebih jauh Kovel menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalah ditentukan, tetapi tidak linier. Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang itu lebih rumit dari pada apa yang dibayangkan pada orang tersebut.

Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari id, ego dan superego. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”. Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.

Nah menarik kayanya malam ini buat sedikit ngebahas soal ego, kenapa ego, ya karena si “ego” lagi ada di sekitar saya sekarang dan entah kenapa membuat saya jadi berada dalam posisi “maju kena mundur kena”, hmmmm…berat dan membingungkan hoho…

Ego adalah mekanisme psikologis manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya SENDIRI. Ego tersebut berupa dorongan yang secara emosional membuat manusia untuk selalu mencari dan mengusahakan apa apa yang dibutuhkannya. Ego yang sangat simpel adalah ego untuk makan, minum, bernapas, tidur, ke kamar mandi, menikah, dan lain sebagainya. Ego yang sedikit belibet adalah ego untuk mempertahankan diri, mempunyai tempat tinggal, dan perasaan aman secara umum atau bisa disebut safe zone. Ego yang rumit adalah ego untuk merasa DIAKUI, DICINTAI, DIHARGAI, DIPAHAMI, DIHORMATI, MERASA MEMILIKI, dan lain sebagainya.

Ego rumit inilah yang seringkali membuat masalah dalam suatu hubungan. Setiap orang mempunyai ego rahasia yang tidak ingin diketahui oleh orang lain, tetapi ingin orang lain memenuhi ego tersebut. Terdengar sangat EGOIS?

Ego tersebut biasanya berasal dari kejadian buruk di masa lalu. Hal tersebut adalah wajar, karena manusia adalah makhluk yang berakal, dan tentu saja menggunakan segala cara untuk menghindari rasa SAKIT di masa lalu terulang kembali. Memberitahukan ego (baca : keinginan terpendam) tersebut kepada pasangan, dengan jujur, terbuka, dan apa adanya, adalah hal yang sangat mereka hindari. Alasannya antara lain malu, harga diri, dan dalih “menjaga perasaan pasangan”.

Misalnya, seorang cewek yang di masa kecilnya kurang mendapat kasih sayang dari figur seorang ayah, tentu sangat mengharapkan seorang cowok yang bisa menggantikan peran tersebut. Misalnya, cowok yang dewasa, bijaksana, bertanggungjawab, dan kuat.

Contoh berikutnya, ada seseorang yang di masa kecilnya dikucilkan oleh lingkungannya. Lambat laun ia tumbuh menjadi seseorang yang rendah diri. Ketika dewasa kelak, ia akan merindukan seseorang yang bisa menerima dia apa adanya, menjadi tempat berlabuh terakhir bagi hatinya yang terombang ambing oleh ganasnya realita kehidupan.

Contoh lain lagi, seseorang yang mempunyai masa lalu gelap, sering dibuat patah hati meskipun dia merasa telah memberikan yang terbaik untuk pasangan, perlahan dalam dirinya membangun sebuah mekanisme ego. Ke depannya, ia cenderung untuk mengeksploitasi hubungan dengan pasangannya, antara lain dengan sering melakukan tindakan selingkuh. Hal tersebut tak lain dan tak bukan adalah untuk memuaskan egonya , yang di masa lalu telah sangat disakiti.

Ternyata hal SEPELE seperti di atas, dua ego yang tidak saling mengisi, membuat sebuah hubungan menjadi tidak sehat dan penuh masalah.

Apa yang bisa kita lakukan?

Yang jelas, jangan berharap dapat menghilangkan ego seseorang, setidaknya dalam waktu yang singkat. Ego adalah mekanisme setiap orang untuk mempertahankan kedamaian hidupnya. Bukankah itu yang memang dikejar oleh semua orang, kedamaian dalam hidup, perasaan tenang, dan kedamaian spiritual?

Kita hanya bisa MENYADARI bahwa setiap orang punya ego masing masing, punya keinginan masing masing, yang sering kali kita tidak bisa saling mengungkapkan secara terbuka hal hal tersebut (dan tidak bisa saling menebak).

Maka, kita jangan menghakimi seseorang yang kelihatannya punya ego BESAR. Kita tentunya juga memiliki ego masing-masing bukan?, Cukup dengan MENYADARI hal tersebut, maka sebuah hubungan akan berjalan dengan baik.

dan ingat ini :

“Setiap orang mempunyai caranya sendiri-sendiri untuk mengungkapkan rasa sayang mereka.”

Orang yang diam, orang yang cuek, orang yang terlihat jutek, dan orang yang terlihat kurang menghargai kita, belum tentu dia tidak menyayangi kita. Banyak hal ku pelajari ketika dalam menjalin sebuah hubungan. Salah satunya dimana kita akan mempertahankan ego kita, atau menyatukan dua pemikiran dan pandangan yang berbeda ? sebuah permasalahan awal yang tidak mudah bukan ? hmm… tapi ada kalanya hal ini dapat memicu sebuah hubungan akan berakhir ketika salah satu dari kita mempertahankan ego masing-masing ! maka apabila menemukan permasalahan yang sama, sepatutnya kita mengambil opsi yang kedua, yaitu menyatukan dua pandangan yang berbeda dengan mengesampingkan ego dari masing-masing.

Ya, turunkan dalam-dalam ego masing-masing…

Banjarbaru, 13 April 2010
19.45 Wita

About these ads