Lebih baik memberi, daripada menerima.?

“lebih baik memberi, daripada menerima” slogan yang enak didengar ga kira2…? jika profesi anda petinju, maka slogan ini bagus diterapkan dalam pekerjaan kita hahahaha.. lebih baik memberi tinju pada lawan, daripada menerimanya, bener kan, emang mau dijotos mulu terus kita ga bales hehehe…. nah jika para pejabat kita yang menerapkan slogan ini dalam pekerjaannya. Lebih baik memberi kebohongan, daripada menerima kenyataan” , maka yang terjadi inilah Indonesia, dari dulu sampai sekarang. ANCURRR..!!!

Dan dalam kehidupan kita sehari-hari kadang-kadang kita untuk mengasihi orang-orang disekitar kita selalu punya “pamrih” dan menuntut padahal yang diatas aja mengasihi kita tanpa batas apalagi pamrih! Bisakah kita meniru dan mengikutNya?

Mungkin saja sebagai manusia biasa mungkin termasuk saya, kita selalu hitung-hitungan kalau mau berbuat kebaikan, untung rugi nya apa?, kalo saya beri, saya dapet apa..??

Namun harus kita sadari kita juga harus sudah berusaha untuk memberi dengan tulus, tanpa pamrih, tapi kadang-kadang kita juga menuntut agar orang tersebut membalas kebaikan kita. Jadi kalau orang tersebut tidak berprilaku sesuai dengan keinginan kita, maka kita kecewa dan marah! Banyak sudah kejadian seperti ini, orang memebri karena mau menguasai atau mengambil simpati orang tersebut. Karena biasanya orang yang menerima jadi agak sungkan.

Sehingga apapun yang dikatakan si pemberi, tidak akan dibantah oleh si penerima, karena ada rasa pamrih tadi. Apakah itu hal yang benar, tentu saya kira tidak, coba gunakan logika terbalik.

Lalu apalagi kalau dari pihak yang menerima juga ternyata curiga dan buruk sangka dengan kebaikan yang kita beri. Kadang-kadang kita jadinya masa bodo, dan nggak mau tahu dari pada ribet dan di curigai macam-macam. Terutama di kota-kota besar, kehidupan sudah sedemikian egois nya, sehingga kalau ada orang yang memberi sedikit pun sudah dianggap aneh / langka.

Padahal kalau semua orang melakukan yang sama, mungkin banyak orang yang akan tertolong dan juga orang yang memberi akan mandapat kebahagian yang hakiki. Karena dengan memberi dengan tulus tanpa pamrih, kita biasanya lega dan merasa bersyukur dan rasanya beda.

Seperti kisah seorang petinju diatas, slogan itu bagus dan tidak salah tapi tidak seluruhnya juga itu benar, jika diterapkan dalam bidang yang salah sehingga bisa dirasakan akibatnya. Kita sering terjebak dalam suatu angan-angan muluk yang akhirnya disadari akibatnya sungguh menyimpang dari apa yang dituju.

Begitu juga dalam hal berbuat baik, seorang Bikuni (pendeta perempuan agama Buddha) dalam sebuah artikel yang saya baca, memberi wejangan demikian. “Kita tidak menggunakan kelebihan kita untuk menonjolkan kekurangan orang lain, Bila orang lain tidak berbuat baik, jangan menggunakan kebaikan kita untuk bahan perbandingan dengannya, bila orang lain tidak semampu kita. Jangan sengaja mempermainkannya dengan kemampuan kita dan ingatlah baik-baik, Jangan sampai kita kehilangan kesempatan yang baik untuk berbuat kebaikan.”

Di dunia, banyak ditemui orang hebat, orang kaya, orang pintar, dan sebagainya, tetapi sedikit kita jumpai orang bijaksana dalam berucap, berpikir, bertindak, dan bersyukurlah masih diberi kesempatan untuk memberi.

dan slogan take and give seharusnya sudah layak dirubah menjadi give and take.. :))
semoga menjadi bahan renungan kita semua…

Banjarbaru, 3 April 2010
19.45 Wita

About these ads