Menghargai orang lain, sebagai salah satu unsur kecerdasan moral adalah elemen yang penting untuk kita tanamkan sejak dini. Dengan bisa menghargai orang lain, kita bisa menjadi insan yang lebih baik dan terpuji.

Cenderung dewasa ini kita sering lupa untuk menghargai sesama kita,
terkadang kita selalu ingin untuk dihargai,tanpa mau menghargai orang lain.
Di kantor kita ingin dihargai sesama rekan atau atasan kita, dijalan kita
selalu mau dihargai orang lain tanpa mau menghargai orang lain. pernah kah
kita bertanya pada diri sendiri, bagaimana mau dihargai oleh orang lain
kalau kita tidak menghargai orang lain terlebih dahulu.

ada sebuah ceita menarik dari sebuah blog yang isinya begini..

ada seorang perempuan yang sedang menunggu untuk masuk ke pesawat. Untuk menghabiskan waktu, ia membeli sebuah buku novel dan sebungkus kue. Setelah itu ia pun menunggu di sebuah lounge dan ada seorang laki-laki duduk di sebelahnya sambil membaca majalah. Bungkusan kue yang sama dengan yang dibeli perempuan itu tergeletak di antara keduanya. Saat si perempuan mengambil sebuah kue dari bungkusan tersebut, laki-laki tersebut pun mengambil sebuah kue. Perempuan itu pun terkejut dan berpikir dalam hati “Kurang ajar, kenapa ia ambil kue saya?”. Kejadian itu pun berulang,hingga akhirnya tersisa sebuah kue.

Perempuan itu pun tidak mengatakan apa-apa karena ia tidak mau mencari keributan di tempat umum. Ia menunggu, apa yang akan laki-laki tersebut akan lakukan dengan kue tersebut. Ternyata laki-laki tersebut mengambil kue yang tinggal satu itu dan membagi dua kue tersebut. Setengah kue itu dimakannya, dan setengah lagi diberikan kepada perempuan tersebut. Perempuan itu pun berang, dan akhirnya meninggalkan lounge tersebut untuk segera masuk ke pesawat. Sesampainya di pesawat, perempuan itu membuka tas tangannya, dan apa yang ia temukan? Sebungkus kue yang dibelinya! Ternyata, kue yang dimakannya di ruang tunggu adalah milik laki-laki tersebut, dan laki-laki tersebut pun tidak marah sama sekali saat ia memakan kuenya, malahan berbagi kue dengannya. Ia pun merasa sangat bersalah, namun, sudah terlambat. Tiada lagi kesempatan untuk bisa meminta maaf, yang ada hanya penyesalan yang amat mendalam.

Aahh…membaca cerita itu membuat kita membuka mata, bagaimana perkataan atau sikap kita terhadap orang lain, tidak dapat diulang kembali. Segala perkataan yang kita katakan kepada orang-orang di sekitar kita, tidak bisa kita ulang lagi. Kita harus bisa lebih berhati-hati dan berpikiran jernih dalam bersikap. Tidak melulu memikirkan diri kita sendiri, melainkan harus bisa melihat dari sisi orang lain dan tidak gegabah dalam mengambil sikap hanya karena emosi. Empati kepada orang lain.

Lalu bagaimana Cara memulai menghargai orang lain? sangatlah mudah. Carilah
kelebihan-kelebihan setiap orang yang kita temui maka setidaknya kita akan melihatnya
sebagai orang yang berharga. kita pun bisa menghargai sebagai sesama manusia
atau sesama ciptaan tuhan, janganlah terus memancarkan keakuan diri kita,
merasa kita lebih pandai, lebih pintar, lebih kaya, lebih ganteng atau lebih
segala-galanya. Coba kita fikirkan apakah kita bisa disebut lebih pintar
kalau tidak ada orang yang bodoh? Atau walaupun kita kaya ketika kita
membutuhkan makanan, mungkinkah kita membuat masakan sendiri, misal kita
ingin makan nasi kita harus membeli dari pedangang yang ada, atau membeli
pada restoran yang ada. hal ini menjelaskan bahwa walau kita punya harta,
ilmu tapi kita masih membutuhkan orang lain bukan.

Dari hal tersebut lah kita bisa belajar untuk saling menghargai sesama kita,
apakah beberapa alasan tersebut tidak menggugah anda untuk menghargai orang
lain, Kalau sudah tidak ada lagi alasan bagi anda untuk menghargai
seseorang, bisa jadi memang diri anda tidak berharga. Kata orang sih agak
sulit menghargai orang lain. Bisa jadi pendapat ini benar. Karena secara
fitrah, manusia selalu ingin “dihargai”, bukan “menghargai”. Artinya,
manusia itu benar-benar egosentris. Dia selalu ingin “difahami”, namun
jarang sekali berusaha untuk “memahami”. Akibatnya, berat untuk hormat dan
menghargai orang lain.

Mulailah dari diri kita sendiri. Niscaya kita akan bisa membuat perubahan ke arah yang lebih baik.

Banjarbaru, 13 April 2010
04.33 Wita

About these ads