Kehidupan kita senantiasa diwarnai riak-riak. Seringkali dalam perjalanan hidup, kita mengalami konflik dengan orang lain, saudara kita maupun sahabat-sahabat kita. Masalah yang memicu konflik bisa saja suatu hal kecil, perbedaan kepentingan maupun perbedaan cara berpikir. Konflik yang ada awalnya mungkin hanya menimbikan kejengkelan, kekesalan dalam hati. Akan tetapi setelahnya, ego dalam diri mulai bekerja, mencari-cari pembenaran bagi diri sendiri, mencari-cari kesalahan dari orag yang tidak kita sukai tersebut. Lama-lama yang kita pikirkan tentang orang tersebut hanyalah kejelekan-kejelekannya.

Kita semakin terbutakan oleh ego dan kebencian kita, kita terus memendamnya dalam hati kita, dalam ingatan kita. Ada kata-kata bijak dari tiongkok kuno yang menyatakan kerelaan memaafkan adalah kemuliaan hati yang terbesar. Anda mungkin berpikir bahwa orang tersebut dapat berkata demikian lantaran dia tidak sedang diliputi kejengkelan dan kebencian, ketika dia sendiri yang mengalami konflik dan ketidaksukaan, mungkin dia juga tidak akan bisa rela memaafkan. Ada benarnya memang. Tapi pernhakah kita merenungkan bahwa pemendaman rasa marah jengkel maupun benci hanya merusak batin kita sendiri?.

Pernahkah kita merenungkan betapa langkanya kesempatan untuk memaafkan itu?. Pernahkah terlintas dalam pikiran kita kalau orang yang kita benci atau jengkel itu sebenarnya punya kesulitan-kesulitan tersendiri?. Pernahkah kita belajar untuk mencoba memahaminya?. Rasa marah, jengkel, benci..sadari..perlahan… Mungkin ..suatu masa..anda akan menyadari bodohnya sikap anda yang tercengkram oleh perasaan tidak suka tersebut.. Mungkin… bahkan ketika anda tersadar dan ingin sekali memaafkan orang-orang tersebut, semuanya sudah terlambat.

Radar Banjarmasin, 14 Juni 2009, hal 24 Diedit seperlunya.