Jakarta yang baru aja merayakan ulang tahunnya ke 482 senin kemarin memang masih saja terus menyimpan sejumlah masalah yang sulit sekali untuk dipisahkan.

Contohnya ya baru aja gw alamin hari ini, biasa masalahnya adalah kemacetan yang ga ada habis-habisnya hehe..

Yah selama beberapa tahun kebelakang ini kan gw emang tinggal di kalsel yang notabene masih “sepi” dari hiruk pikuknya lalu lintas. Ternyata sampai sekarang pun masalah kemacetan di Jakarta masih menjadi ikon kota Jakarta yang sudah berumur 482 tahun ini. Penyakit akut kronis yang sepertinya selalu hinggap di setiap kota-kota besar di Indonesia dan tentunya “pusatnya” adalah di Jakarta hehe..

Sebenarnya jarak antara rumah gw sama kantor eknas sih ga begitu jauh kurang lebih 20 km (atau bahkan bisa kurang) tapi ya kenyataanya jarak yang “hanya” segitu gw tempuh dalam waktu hampir 1 jam 30 menit, bandingkan kalo itu di kalsel wah gw udah bisa bolak-balik banjarbaru-banjarmasin yang jaraknya sekitar 37 km dari kantor gw hahahaha..tentunya ga adil juga sih ngebanding-bandingan kaya gitu apalagi Jakarta adalah ibukota negara yang “merupakan” pusat segala aktivitas perekonomian negeri ini. Beda sama kalsel yang “cukup jauh tertinggal” hehe..

Tapi banyak pikiran menggelitik di benak gw, kenapa masalah kemacetan terus saja ada dari dulu sampai sekarang, apakah pemprov Jakarta tidak memikirkan masalah kemacetan ini sebagai sesuatu yang krusial bagi ibukota ini??, sepertinya tidak karena kupikir cukup banyak hal yang sudah dilakukan oleh pemprov Jakarta untuk menyelesaikan masalah kemacetan ini, dan salah satunya adalah menyiapkan transportasi massal yang dapat digunakan oleh berbagai elemen masyarakat di Jakarta.

Lalu di mana salahnya kalo gitu??.

Sebagai “mantan warga awam” yang tinggal dipinggiran Jakarta dan “sempat” beraktivitas di Jakarta tentunya ada beberapa hal yang menurut saya menjadi krusial untuk terus diperbaiki.
Yang pertama, menurut gw adalah pembatasan kendaraan bermotor di Jakarta dengan tentunya hal pertama adalah pembenahan moda transportasi massalnya, apakah busway itu efektif?, saya rasa tidak. Pembatasan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta tentunya harus merupakan tanggung jawab pemprov atau bahkan pemerintah pusat. Walaupun saya tidak tahu pasti berapa semua jumlah kendaraan bermotor di Jakarta tapi kalo melihat kondisi yang ada sekarang itu jelas melebihi kapasitas daya tampung jalan yang ada di Jakarta, ini juga diperparah dengan mudahnya sekarang untuk mendapatkan kredit kendaraan bermotor di Jakarta. Ini yang menurutku krusial, pembatasan kendaraan bermotor dan penyiapan moda transportasi massal yang dapat digunakan oleh semua elemen masyarakat Jakarta yang plural

Lalu yang kedua adalah, dari faktor masyarakatnya sendiri bagaimana gaya mereka saat berkendaraan di jalan-jalan raya Jakarta, ternyata menurutku salah satu faktor penyebab kemacetan adalah gaya berkendaraan kita semua yang cenderung tidak “bertoleransi” terhadap pengguna jalan lagi, sering gw temuin penyebab kemacetan hanya sepele saja, contohnya adalah banyak bis dan angkutan kota yang ngetem seenaknya dipinggir jalan yang jsutru menyebabkan beberapa titik kemacetan menjadi semakin semrawut, alasan mereka sederhana untuk “kejar setoran”. Lagi-lagi faktor ekonomi, dan sepertinya atau bahkan inti semua permasalahan negeri ini adalah ekonomi. Sesuatu yag menjadi PR besar buat kita semua.

Rakyat memang butuh pemimpin yang PRO Rakyat, yang mengambil kebijakan LEBIH CEPAT LEBIH BAIK untuk rakyat dan LANJUTKAN kebijakan untuk kesejahteraan rakyat hehe..bukan pengusaha ataupun penguasa..!!!

selamat ultah jakarta yang ke-482

Tulisan seorang “mantan warga pinggiran Jakarta”