Suka Berdalih, Musuh Utama Calon Penulis

DORONGAN untuk menulis pada dasarnya bermuara dari dalam jiwa. Segencar apapun orang lain memotivasi, kalau diri sendiri tidak tergugah, tak akan membuahkan hasil.

Faktanya, banyak orang yang berniat ingin jadi penulis, tetapi karena tidak didukung dengan kemauan kuat, impian itu pun tak kunjung terwujud. Akibatnya, boleh jadi hasrat yang semula menggelegak dalam dada, berangsur memudar seiring berlalunya sang waktu.

Salah satu ‘penyakit’ berbahaya yang paling sering menghinggapi calon penulis adalah suka berdalih. Selalu saja ada alasan pembenar yang bisa dikemukakan, kenapa seseorang tidak menulis. Padahal, ketika dalih tersebut dilontarkan saat itu pula tanpa sadar si bersangkutan telah menipu dirinya sendiri.

Ingat, dalih merupakan penghalang terbesar bagi siapapun untuk meraih kesuksesan. Karena itu, jauhkan kebiasaan berdalih dari keseharian Anda.

“Entah berapa banyak ide sebuah tulisan — termasuk yang berpotensi menjadi buku laris atau bahkan klasik — terlanjur mati di bawah tekanan dalih-dalih,” kritik Phil Keoghan, penulis No Upportunity Wasted yang juga bintang televisi terkenal.

Kekurangan, itulah yang kerap dijadikan dalih. Padahal, dalam hidup ini tidak mungkin mengharapkan kesempurnaan. Kekurangan bukan untuk disesali, tapi buat diatasi. Justru dengan adanya keterbatasan-keterbatasan itu, perjuangan kita dalam menaklukkan masalah menjadi lebih bermakna.

Ada beberapa jenis dalih yang sering dikemukakan calon penulis.

Pertama, keterbatasan waktu. Jika dia seorang guru atau dosen, katanya, karena kesibukan mengajar tak punya banyak waktu lagi untuk menulis. Jika dia ulama, dalihnya karena jadwal ceramah sedemikian padat, sehingga tak sempat lagi buat mengangkat pena. Jika dia ibu rumahtangga, alasannya seharian menyiapkan keperluan suami dan anak-anak, sehingga saat mau menulis ia sudah dalam kondisi kecapekan. Bahkan, seorang pengangguran pun ketika ditanya kenapa tidak menulis, pasti punya argumentasi.

Masalahnya bukan pada ketiadaan waktu senggang, melainkan menulis tidak diletakkan sebagai prioritas. Kalau ditargetkan, insya Allah di sela kesibukan apapun, ia masih bisa meluangkan untuk menulis.

Kedua, ketiadaan fasilitas. Dalam sebuah pelatihan kepenulisan, seorang peserta curhat kalau dia sebenarnya ingin menulis, tapi terkendala tidak punya komputer. Padahal, kalau dia memiliki tekad kuat hal itu bisa disiasati. Misalnya, dengan mengetik di warnet. Gola Gong ketika dalam perjalanan — karena waktu mudanya suka berpetualang — sering melahirkan tulisan dengan cara meminjam mesin tik di kantor kelurahan atau pos polisi.

Bahkan, jika perlu cukup menggunakan tulisan tangan. Randu Alamsyah menyelesaikan novelnya Jazirah Cinta ketika berada di dalam hutan. Di lokasi transmigrasi tersebut untuk mendapatkan kertas saja dia harus menunggu anak-anak sekolah yang lewat. Namun, segala keterbatasan itu tak menyurutkan niatnya menulis.

Sebaliknya, banyak orang yang berandai-andai sekiranya dia punya laptop akan gencar menulis, tapi begitu perangkat teknologi canggih itu dimiliki, tetap saja kreativitasnya mandul.

Fasilitas memang penting sebagai penunjang, tapi kesungguhan hatilah yang jadi faktor penentu keberhasilan seseorang dalam menulis.

Ketiga, kondisi kurang fit. Gangguan kesehatan yang sebetulnya tidak parah kadang dijadikan alasan untuk tidak menulis. Padahal mungkin cuma filek biasa, sementara mereka yang cacat permanen (sebagaimana pernah dibahas pada edisi sebelumnya) tetap punya kemauan keras untuk menulis.

Keempat, merasa usia kurang memungkinkan. Ada orang yang berdalih tidak menulis mengingat usianya yang masih terlalu muda: pengalaman dan ilmunya belum memadai. Sebaliknya, ada orang yang mengurungkan niat untuk jadi penulis karena merasa sudah terlambat lantaran terlalu tua. Padahal, kemampuan menulis itu tidak ada hubungannya dengan tingkatan usia. Siapapun, tak peduli apakah dia anak-anak, remaja, kakek renta, punya kesempatan yang sama untuk jadi penulis. Tinggal sejauhmana keseriusan masing-masing individu dalam menekuni bidang kepenulisan.

Kalau mau terus dibeberkan, ada banyak jenis dalih yang dapat diajukan. Suasana yang bising, tetangga yang sering bertandang, atau apapun bisa saja ‘dipersalahkan’.

Ingatlah untuk tidak focus pada kekurangan, sebab itu hanya akan membunuh peluang Anda untuk berkreasi. Putu Wijaya sukses menjadi penulis produktif karena dia memakai kredo “Bertolak dari yang ada”. Para penulis handal umumnya lahir bukan dari lingkungan yang serba kondusif. Mereka juga punya kekurangan-kekurangan tertentu, tapi mereka cerdas mensiasatinya.

Karena itu, kalau memang sungguh-sungguh pengin jadi penulis, mulai sekarang berhentilah suka berdalih! (SU/aliansyah)

Banjarmasinpost, 21 Juni 2009.