Setelah note saya kemarin sempat membahas makna keikhlasan yang saya pahami, sepertinya menarik buat saya untuk menemukan makna kata-kata lain dalam hidup yaitu tulus, bukan bulus ya hehe..

Sama seperti ikhlas, sepertinya tulus, ketulusan merupakan suatu kata yang sederhana namun juga memiliki banyak sekali makna yang luar biasa dan mudah-mudahan bermanfaat untuk hidup kita semua.

Dalam kamus Kamus Besar Bahasa Indonesia -seperti biasa hehe.. – tulus berarti a sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dr hati yg suci); jujur; tidak pura-pura; tidak serong; tulus hati; ke·tu·lus·an v kesungguhan dan kebersihan (hati);

Kenapa saya jadi berbicara tentang tulus, pada umumnya, termasuk saya pribadi selalu memiliki keinginan kalau saya melakukan sesuatu perbuatan apalagi itu perbuatan baik tentunya kita berharap akan menerima perbuatan baik pula, seperti layaknya kita berbuat baik kepada orang lain..hmmm..kalau dalam teori pergaulan sih memang seharusnya juga kaya gitu, tapi apa selalu seperti itu, coba kita pikir ulang dan lihat sekeliling kita.

Harapan dalam sebuah perbuatan tentunya adanya timbal balik yang paling tidak setimpal dengan perbuatan yang kita lakukan. Namun terkadang atau bahkan sering perbuatan itu malah dibenturkan dengan cercaan, caci maki, kekesalan, hinaan, kemarahan atau apalah yang intinya adalah sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan apa yang kita inginkan.

Jujur saja saya sendiri pun masih mempertanyakan apakah sepanjang hidup saya sudah tulus dalam berbuat, bertindak tanpa ada embel-embel mengharapkan balasan yang paling tidak mendekati setimpal dengan apa yang saya lakukan. ternyata saya tidak setulus itu, sering kekecewaan datang kepada saya ketika saya tidak mendapatkan balasan yang setimpal atau bahkan tidak mendapatkan apa-apa sama sekali.

Seperti ketika ketika memiliki seorang sahabat atau teman ketika mereka butuh bantuan, dan saya bantu, namun ketika saya sendiri butuh bantuan mereka tidak membantu seperti apa yang pernah saya bantu dahulu. atau ketika saya menyatakan tulus cinta kepada lawan jenis tapi di kemudian hari ada perang dunia ketiga hingga perpisahan, lalu saya ataupun dia balik mencaci, marah-marah, kecewa, kesal, benci dan lain sebagainya. lalu dimana kah letak “tulus” itu?, sampai saat saya menulis ini pun, saya sedang berusaha untuk mencari-cari hal itu.

Yah sepertinya tak ada yang bisa menjelaskan makna yang sangat luar biasa ada dalam ketulusan itu sendiri karena ketulusan bukan suatu hal yang dapat didiskusikan, dituliskan dalam note ini ataupun hanya diuraikan dengan kata-kata indah, namun harus dirasakan secara langsung, bahkan mungkin butuh waktu beminggu-minggu, berbulan-bulan atau malah bertahun-tahun jika sebuah ketulusan itu di diskusikan secara mendalam.

Sepertinya ketulusan hati memang berasal dari sebuah kesederhanaan hati, ya sederhana, apapun hasil dari tindakan yang kita anggap tulus, sepahit apapun,setidak mengenakkan apapun, ya harus rela diterima dengan tulus pula, tidak memandang imbalan, tanpa embel-embel, tanpa ada iming-iming atau tanpa kepentingan apapun.

Saya, kamu, anda dan kita semua sebagai manusia biasa yang “tong sampahnya” segala dosa dan khilaf pasti akan belajar melalui tahap sebuah ketulusan hidup, tulus dalam bersikap, berbuat dan berpikir. Lalu pertanyaannya mau kah kita melakukannya?

“Kalau semua orang bisa berbuat baik, yang berbuat jahat itu pasti malu. Kalau semua orang bisa bersikap lembut, yang lain pasti malu bersikap kasar, ya kan?”

Banjarbaru, 7 September 2009, 04.30 wita.
“sambil menunggu embun pagi”