Setiap orang tua pasti mendambakan setiap anaknya menjadi seseorang yang sukses didalam hidup mereka, demi menjadi kebanggan mereka, keluarga dan tentunya diri sendiri, kendati memang ukuran kesuksesan itu tidak mungkin sama bagi setiap orang tua dan juga bagi tiap orang.

Ada yang memandang kesuksesan itu berarti memiliki banyak harta dan uang, lalu ada yang bilang memiliki jabatan tinggi dalam pekerjaannya itu juga merupakan kesuksesan, lalu berprestasi didalam bidangnya adalah sebuah kesuksesan juga, lalu apa sebenarnya yang menjadi tolak ukur yang dapat dijadikan sebuah patokan dalam menilai kesuksesan seseorang?, suatu hal yang tentunya akan dijawab berbeda-beda oleh setiap orang. Karena memang pemaknaan hidup atau sistem nilai yang dianut oleh tiap orang tentunya berbeda-beda sehingga persepsi masing-masing orang dalam memaknai sebuah kesuksesan tentunya akan berbeda-beda pula (baca note saya sebelumnya hehe… ).

Dalam hidup kita pun kadang muncul beberapa pilihan sulit yang sering kali membuat kita terjebak ke dalam sebuah dilema yang terkadang memicu sebuah kondisi dimana akan ada pihak yang merasa tidak diuntungkan atau bahkan merasa marah, kecewa atas pilihan-pilihan itu namun di lain pihak berpendapat itu adalah pilihan terbaik untuk dirinya.

Contohnya, sebut saja namanya nesta – bukan nama sebenarnya, (gaya-gaya tulisan kriminal dalam koran ya hahaha..) .

Saat itu nesta dihadapkan pada dua pilihan sulit yang mungkin akan menjadi sebuah jalan hidupnya kelak, tentunya dua pilihan itu memiliki dua konsekuensi yang berbeda pula. Misalnya ketika itu nesta dihadapkan pada dua pilihan dimana dia harus memilih menjadi seorang pegawai pemerintahan atau menjadi pegawai swasta yang sering dipandang miring oleh banyak orang.

Pilihan pertama adalah sebagai pegawai pemerintahan, bekerja sebagai pegawai pemerintahan bagi banyak orang tentunya dinilai sebagai sebuah “jaminan kesuksesan”, ya memang sih dengan menjadi pegawai pemerintahan dia akan terjamin seumur hidup karena pada saat pensiun pun masih akan dapat gaji pensiunan. Namun si nesta berpikiran bahwa menjadi seorang pegawai pemerintahan bagaikan berada didalam “sangkar emas”, dari luar kelihatan bagus tapi didalamnya dia tidak menikmati itu, apalagi dengan gaya ortodoks konvensional bin birokratis yang ada (apaan ya artinya, ya gitu lah pokoknya hahaha…), dan juga beberapa hal lagi yang membuat dia ga sreg menjadi pegawai pemerintahan. Namun yang membuat nesta menjadi dilema adalah neneknya lah yang berambisi untuk menjadi kan nesta sebagai pegawai pemerintahan, ya maklum lah dulunya nenek si nesta ini kan pegawai pemerintahan jadi beliau udah tau “enaknya” jadi pegawai pemerintahan hehe..

Lalu pilihan kedua adalah si nesta memilih menjadi pegawai swasta yang “tidak terjamin” hidupnya, namun dalam pekerjaan itu dia menikmatinya dan terus semangat untuk belajar dan belajar dalam melakukan pekerjaanya itu dan coba memberikan yang terbaik yang bisa dia lakukan untuk pekerjaannya.

Sebuah keputusan yang sangat sulit buat nesta dalam mengambil sebuah keputusan karena disatu sisi pekerjaan yang diinginkan neneknya tidak sesuai dengan apa yang ada didalam hatinya. Dia sadar kalau dia menolak menjadi pegawai pemerintahan tentunya neneknya akan sangat marah, kecewa, atau sakit hat.

Namun akhirnya dengan penuh perhitungan dan kesiapan mental dalam mengambil sebuah keputusan yang akan berkonsekuensi terhadap banyak hal. Akhirnya dia memutuskan untuk mengambil pilihan kedua tentunya dengan segala konsekuensinya.

Contoh kisah diatas membuatku beranggapan bahwa kesuksesan atau apa lah namanya itu aq pikir bukan lah berasal dari penilaian orang lain, hanya dirinya lah yang bisa merasakan kapan saat itu ada, sesuai dengan pemaknaan hidup yang dia maknai dan kupikir tidak ada patokan yang baku memang dalam menilai sebuah kesuksesan seseorang didalam hidupnya.

Mungkin aq memang tidak akan menjadi seseorang yang sukses dimata banyak orang, tapi aq selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan bagi diriku sendiri, orang tua, keluargaku pekerjaanku, teman-temanku, sahabat-sahabatku, dan juga orang-orang yang ada disekelilingku.

Buatku yang menjadi ukuran kesuksesan seseorang adalah ketika dia berusaha memberikan yang terbaik yang bisa dia lakukan, walaupun sering apa yang dia lakukan itu belum lah tentu benar, namun sekali lagi kehidupan adalah sebuah maha pelajaran terbaik yang pernah kita dapatkan, sehingga belajar dan terus belajar untuk meperbaiki diri adalah sebuah kewajiban kita selama hidup.

Tulisan ini ku dedikasikan untuk kesabaran mamaku dalam mendukung setiap hal positif yang kulakukan walau sampai saat ini anaknya yang “kurang ajar” ini merasa belum bisa memberikan sesuatu yang berarti buat dia, maapin aq ya ma..

Thank’s mom for everything..

Semoga bermanfaat dan berguna untuk menjadi renungan..

Ruang Tamu Rumahku, Ciledug, 24 September 2009, 02.30 Wib.