Kaos lusuh berwarna cokelat, celana panjang dan tanpa alas kaki. Itulah gambaran seorang pengamen cilik yang kutemui didalam sebuah bus kota jurusan blok m-cipedak tadi siang. Mungkin umurnya tidak lebih dari 10 tahun.

Hanya dengan bermodal kecrekan dia mulai menyanyikan sebuah lagu yang aku tahu lagunya namun sayangnya aku ga tau siapa band atau penyanyi yang menyanyikannya hehe…

Setelah beberapa saat aku memperhatikan dia, akhirnya lagu yang dinyanyikannya selesai juga dan langsung saja dia membuka bungkusan bekas permen pewangi mulut dan mulai berjalan dari bangku-ke bangku untuk sekedar “mengingatkan” penumpang bus agar memasukkan “setetes” rezeki mereka kepada dia.

Hmm..ironisnya dari penumpang yang ku hitung sekitar berjumlah 10 orang termasuk aku, hanya aku dan satu orang yang memberinya uang hasil jerih payahnya menyanyi, dan tak ada raut wajah kecewa diwajahnya. Mungkin sudah biasa pikirnya atau dia sudah tidak heran melihat perilaku sebagian besar masyarakat kota Jakarta yang “mungkin” cenderung apatis, apriori, sinis atau apalah namanya terhadap anak-anak jalanan, pengamen, pengemis dan kaum proletar lainnya. Akhirnya pengamen cilik itu duduk disampingku karena memang aku duduk di bangku paling belakang sampai akhirnya dilampu merah berikutnya dia turun dan kembali mencoba peruntungannya di bus yang lain.

Jadi terpikir banyak hal begitu dia turun dan mulai kuperhatikan langkahnya meninggalkan bus yang kunaiki. Salah seorang teman dekatku bilang bahwa anak-anak jalanan, pengamen-pengamen cilik itu hanya lah dieksploitasi oleh orang tuanya saja, hmm benar ga sih?entah lah, tapi terlepas dari benar atau tidaknya dieksploitasi ada beberapa hal sepertinya yang patut dipikirkan kembali yah ini secara khusnudzon (prasangka baik) hehe…

Yah kalo berprasangka baiknya sih, ku pikir, aku yakin tidak ada orang tua manapun yang teganya anaknya bekerja dalam usia yang masih sangat muda apalagi hidup di jalanan Jakarta yang sangat keras, dan jika itu terjadi maka itu adalah sebuah “keterpaksaan” terutama atas desakan ekonomi. Walau pasti yang lain akan bilang jangan atas dasar desakan ekonomi lalu mengorbankan anak untuk bekerja. Hmmm..oke..

Lalu aku jadi berpikiran dangkal, seandainya penguasa kita bisa mensisihkan uang lebih besar untuk anak-anak jalanan itu apakah mereka memang benar-benar tidak tertampung dan diberdayakan, masa untuk “menyehatkan” bank century sebesar hampir 7 triliun saja bisa, masa untuk anak jalanan tidak bisa, yah walaupun ku tahu ada memang dana di depsos untuk anak-anak jalanan itu, atau apakah karena mereka hanya anak jalanan yang tidak memberikan pemasukan apa-apa bagi Negara sehingga mereka dinomorduakan dan dianggap tidak penting? Entah lah.

Lalu kenapa anak-anak jalanan itu tidak sekolah?. Apakah sekolah gratis tis tis tis tis.. yang digembor-gemborkan itu benar?, yah kupikir ada benar dan ada tidaknya juga. Gratis masuknya saja (bahkan jika mau masuk sekolah negeri bergengsi tetap saja masih ada yang jual kursi ckckckc..) tapi buku dan lain-lainnya tetap saja bayar dan bahkan cukup mencekik juga, apakah itu yang dinamakan sekolah gratis, ini sih pikiran dangkalku saja. Karena mungkin saja orangtua para pengamen cilik itu berpikiran sekolah memang gratis tapi buku dan seragamnya bisa sampai ratusan ribu, hmm..sebuah situasi yang sulit dan bisa saja karena itu orang tuanya tidak menyuruhnya sekolah.

Terlalu banyak hal yang tidak ku mengerti dari cara berpikir para penguasa negeri ini dan sampai saat ini pun aku masih mencoba mengerti dan memahami bagaimana cara berpikir penguasa kita namun sayangnya masih belum bisa kupahami apa kemauan mereka.

Tegal Parang, 6 Oktober 2009, 19.12 Wib.