Belajar Memahami Sebelum Memarahi

“Orang-orang berkata, jika ada yang dapat memahami dirinya sendiri, ia akan dapat memahami semua orang.” –Kahlil Gibran-

Banyak hal yang kadang membuat saya ataupun kita semua kadang ga memiliki satu pemahamanan dalam memandang suatu permasalahan dalam hidup. Akankah kita bisa memahami orang lain seperti pahamnya orang lain terhadap diri kita, pasti akan beda-beda kan?.

Ya wajar aja sih karena setiap orang memiliki suatu sudut pandang yang berbeda-beda akan suatu permasalahan dan tentunya dengan pikiran, perasaan dan pandangannya terhadap sesuatu. Tiap saat kita berhadapan dengan bermacam-macam situasi. Terutama ketika berhubungan dengan orang lain.

Memahami orang lain adalah bagian penting dalam kehidupan bersosialisasi dengan masyarakat di sekitar. Ada banyak orang cerdas tetapi dia tidak memahami orang lain sehingga dengan kecerdasannya dia membuat orang lain kecewa, merasa disakiti, dan diremehkan.
Memahami orang lain bukan perkara yang mudah, tapi tidak sulit bila kita mau untuk berbuat diri kita paham akan tingkah laku orang lain. Ketika kita mencoba memahami orang lain. Namun banyak hal sebenarnya yang mungkin saya ga tau akan pentingnya memahami hal-hal yang ada disekitar kita. Dan ada banyak pula yang hanya akan menjadikan kita sebagai manusia yang perlu banyak belajar dari setiap hal yang kita lalui.

Sehari-hari kita menghadapi berbagai sifat dan watak orang, termasuk merasakan watak diri kita sendiri. Jika orang lain membentak ataupun menegur kita yang sombong, otak kita akan merespons apa itu sombong dan apa yang menyebabkan saya sombong. Lalu, hati kita pun diajak berdialog, ”Benarkah saya sombong?” Dari situ kita lalu berpikir, ”Wah, benar saya ini sombong” atau ”Ah, rasanya saya biasa saja, tidak sombong.” Jika kita sombong, apakah bisa kita menahan kesombongan itu? Jika kita merasa tidak sombong, benarkah apa yang kita lakukan bukan merupakan kesombongan? Hmm..bingung kan hehe..

Memahami diri sendiri dan orang lain juga menurut saya adalah bagaimana kita belajar untuk berbesar hati akan suatu hal, Namun kadang, ego mengalahkan niat untuk memahami. Saat kita merasa kepentingan pribadi kita akan terganggu oleh perbuatan orang lain, entah itu langsung atau tidak langsung terhadap kita, secara spontan niat untuk memahami seakan lenyap tak berbekas. Ujung-ujungnya sebuah sikap perlawanan yang kita kedepankan. Kalau sudah begini, gesekan dalam sebuah hubungan tak mungkin dihindarkan.

Ada beberapa hal yang mungkin saja bisa dikatakan sebagai penyebab dari gagalnya kita memahami orang lain, seperti :

a) Egois
Ini adalah penyakit anak berusia dua tahun, yang hanya memilih mainan terbaik untuk dirinya dan memaksakan kehendaknya. Agaknya setiap orang tidak sengaja bersikap egois; sudah menjadi kodrat manusia untuk memikirkan kepentingan sendiri terlebih dahulu. Untuk mengubah sikap egois menjadi penuh pemahaman memerlukan kemauan dan komitmen untuk selalu melihat segala sesuatunya dari sudut pandang orang lain.

b) Tidak menghargai perbedaan
Langkah logis berikutnya sesudah meninggalkan sikap egois adalah belajar mengenal dan menghargai kualitas unik setiap orang. Belajarlah menghargai perbedaan mereka. Variasi merupakan dinamika yang menarik antar manusia.

c) Gagal mengakui persamaan
Ketika anda belajar lebih banyak tentang orang dan mengenal orang lain dengan baik, anda segera sadar bahwa orang mempunyai banyak kesamaan. Semua orang mempunyai reaksi emosional terhadap apa yang yang terjadi di sekeliling mereka. Untuk membantu perkembangan pemahaman, pikirkanlah bagaimana emosi anda nantinya jika berada dalam posisi yang sama seperti orang yang berinteraksi dengan anda.

Kata orang bijak gini ni, “Jangan perbuat kepada orang apa yang kamu tidak ingin diperbuat orang kepadamu. Kalau dirimu tidak mau ditampar orang, maka jangan pernah menampar orang. Itu kalau kalimat negatifnya. Mungkin kalau kalimat positifnya menjadi, perbuatlah kepada orang lain, apa yang kamu ingin diperbuat orang lain kepada kamu”. Tapi inget jangan pamrih yah hehe,,,, ga ikhlas tu namanya hehehe…

Nah sekarang tinggal kitalah yang bisa memilih apakah mau memahami diri kita dan orang lain ataukah kita ingin dipahami orang lain tanpa kita sadari kita tidak pernah mau berusaha untuk memahami orang lain. Dekatkan diri kita, coba telaah mengapa orang bisa berbuat seperti itu. Mungkinkah perbuatan yang tidak kita sukai dari orang lain tersebut pun ada pada diri kita saat ini.

Semoga berguna…

“karena menulis adalah proses berbagi”

Banjarbaru, 22 Oktober 2009, 22.23 Wita
Malam yang dingin habis ujan..