Siang tadi ketika sedang santai duduk-duduk di sekretariat temen-temen KOMPAS BORNEO UNLAM, tanpa sengaja melihat sebuah selebaran berwarna hijau yang ternyata tulisan-tulisan didalam kertas itu membuatku mengerutkan kening membacanya dan sambil bertanya-tanya dari mana selebaran ini berasal karena tidak ada tulisan individu atau organisasi mana yang bertanggung jawab didalam selebaran itu.

Kalo bisa kubilang sih ini adalah sebuah “black campaign” yang dilakukan entah oleh pihak mana namun sangat jelas ditujukan untuk siapa. Sebagai informasi kutuliskan saja disini, tanpa ada maksud untuk memperkeruh suasana, tulisan ini hanya sebuah keprihatinan atas sebuah tindakan tak etis, sangat tidak elegan dan jujur saja menjadi catatan buruk untuk demokrasi mahasiswa di kampus unlam yang sama sekali ga jelas dilakukan oleh siapa.

Isi selebaran itu sebagai berikut :

PENGGELAPAN YANG DILAKUKAN
KETUA BE-DEMA UNLAM
DIAN WAHYUNI

• Menerima uang dari Krakatau steel setelah melakukan wawancara dengan media tentang hak-hal baik dari Krakatau steel (buat apa Krakatau steel membayar dian dan dian melakukan wawancara).
• Menerima uang dari PLN saat terjadinya pemadaman bergilir di kalsel (uang anti demo).
• Penggelapan saat seminar biji besi.
• Mendukung dan menerima uang saat pemilihan rector unlam dari tim sukses salah seorang calon rector dank e dikti Jakarta dengan biaya tim sukses salah satu calon rector untuk memasukkan berkas keburukan salah satu calon rector yang lain.
• Membuat proposal fiktif dari organisasi-organisasi yang ada di kampus unlam dengan cara memalsukan stempel organisasi-organisasi tersebut (contoh : himase fkip unlam, tanya akang prodi fkip unlam).
• Membuat surat permohonan beasiswa untuk anggota be-dema unlam kepada rektor secara sepihak yang juga merugikan mahasiswa yang cerdas yang juga mengajukan beasiswa tapi ditolak.
• Membuat proposal kegiatan fiktif yaitu “kongres mahasiswa nasional di UI” yang sebenarnya kegiatan itu tidak ada dan mendapatkan bantuan dana dari rektorat yang ternyata dana tersebut digunakan untuk pulang kampung dan membawa sang pacar lari dari ibunya ke jawa barat.

Itu lah isi dari selebaran gelap yang katanya sudah banyak beredar di kampus Unlam, Banjarmasin. Terlepas benar atau tidak beberapa tulisan diatas dan tanpa membela siapapun disini saya cuma ingin menyampaikan sebuah keprihatinan terhadap tindakan-tindakan yang sangat buruk tersebut.

Selebaran gelap diatas adalah sebuah catatan buruk bagi demokrasi di kampus Unlam, padahal seharusnya rekan-rekan mahasiswa adalah tonggak dari sebuah perjalanan demokrasi walaupun memang dalam berdemokrasi dikampus adalah sebuah pembelajaran sebelum kita benar-benar terjun ke dalam kehidupan yang lebih luas.

Namun hal-hal seperti ini menjadi sebuah sinyal buruk bagi kehidupan berdemokrasi setelah keluar dari lingkungan kampus, cara-cara tak etis, tak elegan ini tentunya bisa saja terbawa ke dalam kehidupan bermasyarakat nantinya, padahal selama ini justru rekan-rekan mahasiswa lah yang menjadi motor penggerak dalam kehidupan berdemokrasi di negeri ini, gerakan rekan-rekan mahasiswa sekaligus menjadi bukti bahwa tak semua mahasiswa diam membisu melihat ketidakadilan dan kemiskinan yang membelenggu negeri kita, betapapun kecilnya, adalah pantulan ekspresi untuk memberikan kritik dan koreksi agar pemerintah bersikap amanah dan memihak rakyat.

Gerakan mahasiswa sungguh berurat berakar di Indonesia sejak era kolonial, di mana para aktivis mahasiswa menjadi kekuatan moral dan politik dari rakyat untuk menyuarakan kepentingan kaum tertindas. Dr Tjipto Mangunkusumo, Budi Oetomo, Soekarno-Hatta-Sjahrir-Nat

sir, dan seterusnya adalah beberapa aktivis mahasiswa dan pemuda yang mengabdikan hidupnya bagi gerakan menuju Indonesia merdeka. Gerakan mahasiswa juga mampu tampil sebagai kekuatan moral untuk mengontrol dan mengoreksi pemerintah yang berkuasa walaupun kadang ditunggangi pihak-pihak tertentu yang mengambil keuntungan namun semangatnya masih terus terjaga.

Padahal sebenarnya pemilihan rektor Unlam yang lalu merupakan sebuah pembelajaran sangat berharga bagi kehidupan berdemokrasi di kampus unlam, namun apakah itu tidak menjadi sebuah pembelajaran yang sangat berharga buat segenap civitas akademika Unlam.

Dunia perguruan tinggi yang ideal adalah benar-benar melaksanakan demokrasi di internalnya. Seperti apa yang diperjuangkan tentang demokratisasi dalam negeri ini. Ini adalah pilihan, dunia perguruan tinggi berpegang antidemokrasi dan intervensi, atau kah dunia perguruan tinggi mempunyai integritas holistik demokrasi dan keadilan, yang menghargai manusia sebagai layaknya manusia, dan menjunjung objektivitas dan keilmiahan.

Tak ada maksud untuk “menggurui” atau “sok tahu”, tulisan ini hanya lah sebuah cerminan perasaan miris terhadap kondisi yang entah disengaja oleh pihak manapun dibuat seperti ini.

Ayo rekan-rekan mahasiswa, kalsel membutuhkan kalian untuk terlepas dari keterpurukan berbagai sektor didaerah ini !!!.

Banjarbaru, 23 Oktober 2009, 19.43 Wita.