Filosofi Dalam Memasak

Setelah sekian lama absen menulis note di fesbuk maupun blog (sebabnya sih kesibukan dan ga ada ide hahaha…), akhirnya, siang ini saya mendapatkan lagi sebuah inspirasi menulis yang mudah-mudahan bermanfaat buat kita semua.

Bagi sebagian pria ataupun sebagian wanita memasak kadang bisa menjadi suatu hal yang membosankan dan sangat merepotkan karena semuanya harus dipersiapkan secara detil atau bahkan menyenangkan, namun buat kebanyakan wanita memasak adalah suatu keharusan yang mau tidak mau harus mereka kuasai seiring bertambahnya umur, maklum nanti bakalan jadi istri dan jadi ibu hehe.., bukan hanya masak nasi, air, mie atau telur dadar aja hahaha.. tapi paling tidak mereka bisa memasak makanan yang bisa dinikmati keluarganya pada saat dia berkeluarga nanti. Walaupun kalau saya pribadi sih ga menganggap seorang wanita itu harus bisa masak, tapi kebanyakan wanita merasa “ga enak” sama pasangan mereka kalo ga bisa masak, bener ga para wanita-wanita hehe..??.

Dan uniknya dari banyak para chef handal di negeri ini ataupun diluar negeri mereka adalah para cowo sebut saja misalnya Rudi Choirudin ataupun Bara Patirajawane dan masih ada beberapa nama beken lain yang terkenal gara-gara keahlian mereka dalam memasak hehe.. bukannya mau menyombongkan para cowo lebih hebat dari dari cewe dalam memasak tapi pembelajaran buat para cowo kalo masak itu ga identik hanya sama yang namanya cewe aja dan ga harus juga istri-istri kalian nanti dipaksa harus bisa masak tapi paling tidak sebagai kodrat seorang wanita ya harus bisa masak juga hehe…

Masuk ke dalam inti tulisan saya, sebenarnya saya hanya ingin berbagi tentang sedikit memaknai filosofi (kalau boleh dikatakan seperti itu) didalam memasak itu sendiri. Buat saya memasak hampir sama prosesnya ketika kita menjalani kehidupan kita sendiri, disana ada proses yang berjalan, ada kesabaran, ada persiapan, ada proses mematangkan dan juga menghidangkan atau menyajikan.

Sama seperti hidup kita sekarang yang saya pikir hampir mirip dengan proses memasak itu sendiri, saat pertama kali kita dilahirkan hampir sama ketika kita sedang mempersiapkan bahan-bahan dalam memasak, kita sebagai “bahannya”, kehidupan adalah bumbu-bumbunya lalu ketika kita mulai beranjak dewasa kita mulai sekolah, dari SD sampai perguruan tinggi, itu semua menurut saya adalah sebuah “bumbu-bumbu”yang ditaburkan kepada kita sebagai” bahan dasar” dari sebuah “masakan” kehidupan hingga suatu saat kita akan “disajikan atau dihidangkan” ke dalam sebuah “perjamuan” kehidupan yang sesungguhnya.

Didalam memasak kita diajarkan oleh yang namanya proses, mulai dari menyiapkan bahan, memanaskan minyak, mencuci sayuran, memotong bumbu-bumbu hingga yang lainnya dan itu sama dengan hidup kita sendiri yang mana hidup adalah berproses sedikit demi sedikit, bertahap dan tidak serta merta langsung sebuah menjadi “makanan” jadi. Ada sebuah proses didalam hidup kita.

Sebuah proses yang harus benar-benar kita lakukan untuk mendapatkan “cita rasa” yang pas dalam hidup kita, kita harus benar-benar menjalani hidup kita sebagai bagian dari proses hidup kita sendiri agar kelak nanti ketika dewasa kita menjadi seorang manusia yang berguna, bermanfaat, dapat “dinikmati” dan dapat membuat orang disekeliling kita nyaman dengan diri kita. Dalam memasak juga kita diajarkan untuk menggunakan kesabaran kita, masakan yang akan kita masak tidak akan menjadi baik dan enak ketika kita terburu-buru dalam memasaknya, dan dalam hidup pun seperti itu dalam proses tadi kita diajarkan bahwa sebuah kesabaran adalah kesediaan untuk menjalani prosesnya satu demi satu.

Dunia ini diciptakan berproses. Kesabaran berarti menikmati proses tersebut. Kita tak bisa mendadak menjadi kaya, pandai, dan sukses dalam suatu hal tanpa proses. Kita harus mau bersabar menjalani prosesnya dari hari ke hari. Dalam hal ini berlaku hukum pertumbuhan dan sebab akibat, kita hanya menuai apa yang kita tanam. Atau ada yang bilang gini Kesabaran adalah saudara kembar dari keberanian bertindak. Kesabaran adalah denyut nadi yang menentukan seberapa lama keberanian untuk terus mencoba, tetap bertahan dalam diri seseorang. Kalau kita bersabar Anda akan benar-benar menikmati saat-saat terindah dalam hidup Anda.

Saat ini dan mungkin di masa-masa yang akan datang akan terus terjadi di hadapan kita peristiwa atau permasalahan yang menuntut bukan hanya agar kita bersabar, tetapi agar bisa menunjukkan sikap sabar yang baik. Semoga. Wallahu alam.

Semoga berguna dan bermanfaat..amin..
(habis masak ati goreng dan tumis kangkung lalu nulis hehe…)

Banjarbaru,
Minggu, 3 Januari 2010, 14.53 Wita.
“Menulis Adalah Sebuah Proses Berbagi dan Hidup Adalah Sebuah Proses Belajar”