Kesalahan, Maaf…

Berbuat kesalahan dalam kehiduapn adalah suatu yang manusiawi dan wajar, saya pun pernah berbuat kesalahan, mungkin kita semua pun pernah berbuat kesalahan dalam hidup ini, entah itu perbuatan salah kecil, salah besar, kesalahan disengaja atau tidak disengaja, tetapi hal tersebut tetaplah sebuah kesalahan.

Terkadang kesalahan yang kita lakukan bisa terus menerus melekat dalam benak ingatan kita,dan bahkan sampai ke dalam alam bawah sadar, yang membuat kita sering terbayang-bayang atau traumatis dengan apa yang telah terjadi.

ketika kita berbuat salah yang paling penting dan harus kita lakukan adalah meminta maaf, dan mengakui kesalahan yang kita lakukan serta tidak melakukan kesalahan yang telah kita perbuat. lalu mengapa banyak orang yang enggan meminta maaf saat dia berbuat salah? ada 3 alasan yang menurut saya membuat seseorang tidak mau meminta maaf.

1.MALU
Semua orang sangat takut mendapat malu atau dipermalukan. Ini dapat mempengaruhi sisi psikologis seseorang karena memang tidak ada orang yang siap untuk “dipermalukan” atau menerima suatu keadaan yang dikatakan “menanggung malu”.

2.EGO
Sikap egoisme pribadi sering menjadi penentu pertama, karena orang yang
telah berbuat salah, sudah tidak bisa menutupi perasaan bersalahnya lagi.Sedangkan untuk mengakuinya, seseorang tersebut akan merasakehilangan nama atau wibawa apabila mengakui kesalahannya.

3.KERAS KEPALA
Ini dilandasi oleh pemikiran bahwa ada prinsip-prinsip yang tidak dapat
dihindari dan di pegang teguh oleh orang tersebut. Sikap keukeuh itusangat terkait-erat dengan keinginan seseorang agar prinsip atau pilihan sikap yang di pegangnya tersebut juga diperhatikan ataudidengarkan orang lain, meskipun pada banyak kejadian, prinsip yang dianut tersebut adalah sebuah prinsip yang salah.

Kesal terhadap seseorang karena kesalahan yang diperbuatanya boleh saja, Tapi bukan berarti harus terus-terusan dipelihara. Selain capek hati, juga kita bisa jadi keras hati. Salah-salah malah jadi pendendam. Kita bisa kecewa jika dikhianati, kita bisa muak jika dibohongi. Tapi, bukan berarti kita terus memendam perasaan itu apalagi berniat tak akan pernah memaafkannya, atau bahkan tersirat keinginan kita untuk membalasnya, ketika seseorang memang salah kepada kita. apakah dia akan selamanya salah? Tidak juga bukan? Sama seperti kita, apa ketika kita berbuat benar, kemudian selamanya akan benar?. Kita juga Tidak mau dianggap salah terus, padahal kita sudah berusaha untuk menjadi lebih baik. Nah, cobalah kita fikirkan ulang hal ini.

Ada nasehat yang saya baca dia bilang gini, jangan pernah men-judge orang lain. Jangan pernah menghakimi. Kita tidak pernah tahu trauma apa yang pernah ia alami, sehingga ia berperilaku tidak sesuai harapan kita.

Saya sering mengalami di-judge orang. Dan saya merasa tidak berdaya. Pertama, karena saya memang tidak sempurna, dan orang menunjuk ke titik lemah saya. Kedua, tidak selalu situasi itu seperti yang mereka bayangkan, tapi kita terlalu kecewa untuk bersusah-susah menjelaskannya. Saya merasa tidak berdaya karena tidak bisa sama dengan pikiran orang. Lebih parah lagi kalau judgment itu datang dari orang yang kita hormati, yang kita care, apalagi yang kita cintai. Kita terpaksa bersembunyi meringkuk menahan sakit.

Oleh sebab itu nasehat tadi itu betul sekali: kita perlu menahan diri untuk tidak men-judge orang. Hanya pada saat berbuat kesalahan, maka manusia akan menjadi manusia dan tetaplah menjadi manusia. Kesalahan adalah bagian dari kemanusiaan. Memang akhirnya kesalahan tetaplah sebuah kesalahan. Kesalahan pun adalah bagian dari proses belajar dalam hal apapun, bahkan kadang-kadang malah merupakan proses belajar itu sendiri. Sehingga lebih tepat kalau konteksnya bukan belajar berbuat salah, namun belajar menyikapi kesalahan.

Dalam kesempatan ini karena saya adalah manusia yang tak luput dari salah dan dosa, maka saya meminta maaf atas semua kesalahan dan kehilafan yang pernah saya perbuat.

Who am I to pass judgment? God waits a lifetime before He passes judgment…

Banjarbaru, 17 November 2009, 00.31 Wita
(terinspirasi saat mendengar temanku siaran, makasih hendra atas idenya hehe…)