Elegi Kisah 2 Kota

Teringat ketika berada di suatu malam yang sedang diguyur lebatnya hujan di sebuah kota besar, melihat sekeliling jalan yang terus dibasahi oleh air hujan, mengingatkan ku akan hujan yang mungkin sama lebatnya di sebuah kota kecil yang terpisah hampir ribuan kilometer dari tempat di mana saat ini kuberada.

Pikiran bingung ku terus saja berputar-putar mengingat tempatku di kota itu dan di kota di mana aku berada sekarang. Banyak hal yang selalu membuatku terus saja dilanda kebingungan dengan 2 kota ini, dua tempat yang jika saja aku bisa, aku akan berada di 2 tempat ini sekaligus, tanpa harus meninggalkan salah satu kota ini, suatu hal yang tak mungkin tentunya.

Kota besar ini adalah tempat di mana ku tumbuh besar, tempat dimana orang-orang yang kucintai ada disini, tempat di mana ku selalu merasa sedih jika kutinggalkan, tempat dimana semua kenangan bergulir silih berganti, sedih, senang, suka, duka semuanya bercampur menjadi satu, menyisakan cerita yang tak mungkin ku lupakan dan selalu memanggilku untuk kembali dengan romantisme masa lalu yang begitu kuat. Walau kini kumerasa sepertinya kota ini semakin tidak manusiawi dengan segala kemegahan dan kemewahannya seakan-akan kota ini hanya tempat bagi mereka yang benar-benar bisa hidup dengan segala hiruk pikuk kebisingannya, gemerlapa lampu malamnya dan ketimpangan antara si miskin dan si kaya. Ah kota yang semakin tidak bersahabat semakin lama.

Sedangkan kota kecil nan jauh disana juga merupakan kota yang sepertinya tidak akan pernah juga kulupakan. Yah walaupun memang dulu ketika masih dikota besar itu tidak pernah terpikir oleh saya bahwa akan berada di kota kecil ini. Karena mungkin “kecelakaan sejarah” saja sehingga ku bisa berada di sini.

Namun itu semua tidak menjadi penyesalanku, dan tidak pernah terbersit sedikit pun rasa penyesalanku, yang ada malah rasa bersyukurku karena telah berada di kota ini walau memang kenangan kota besarku selalu membuatku merasa bingung. Kota kecil ini sudah memulai cerita di mana kisahku mulai terukir, kisah yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya, kisah yang berjalan seperti sungai yang terus saja mengikuti ke mana akan bermuara. Namun tetap semua kendalinya ada padaku.

Kini bagaikan sebuah dilemma ataupun elegi ketika saya suatu saat harus memutuskan di mana saya akan terus tinggal, terus membangun kisah cerita sebuah jalan hidup saya, atau bahkan bukan di dua kota itu kisah saya akan terus berlanjut, ah saya tidak bisa memastikan jika semuanya belum saya jalani.

Namun dalam benak ku memang ada masa di mana saya akan memutuskan sebuah keputusan yang sulit namun tetap harus saya ambil sama seperti ketika sebuah keputusan besar saya ambil ketika berada di kota kecil ini. Keputusan yang mengubah kisah hidup saya “hingga” 180 derajat.

Dua pilihan dalam hidup itu begitu berpengaruh dalam kehidupan kita selanjutnya. Pilihan yang akan kita pilih senantiasa akan memberikan dampak yang teramat luas bagi kita selanjutnya, Memang sulit dalam hidup yang mempunyai dua pilihan yang sarat dengan makna dan arti bijak. Mungkin manusia kalau boleh menambahkan apa yang telah di gariskan maka manusia akan menambah pilihan itu menjadi tiga, empat, lima atau bahkan sebanyak-banyak pilihan agar manusia dapat bebas memilih.

Kota besar ini atau kota kecil itu semuanya akan tetap mewarnai kisah hidupku.

Sebuah Kota Besar, 10 Mei 2010, 00.42 Wib