Ketidaksempurnaan Dalam Kesalahan Yang Sama.

“Kesalahan yang berulang-ulang adalah kebenaran”

Kalimat di atas bukanlah quote dari seorang pemikir hebat. Bukan pula hasil pemikiran mendalam dari dalam diri saya sendiri, apalagi semacam wangsit. Sebenarnya itu adalah ‘plesetan’ dari kalimat yang lain dan lupa bagaimana aslinya.

Kalimat tersebut seringkali saya jumpai dalam novel-novel thriller atau dalam wacana intrik politik. Katanya sih, itu berasal dari pengamatan terhadap sifat unik manusia dalam membentuk suatu “asumsi-subyektif” yang seringkali tertukar sebagai “kebenaran-obyektif”. Cekoki orang terus menerus dengan “fakta” yang kita inginkan, lama kelamaan orang tersebut akan menerima “fakta” itu jadi “kebenaran”, tak penting apakah “kebenaran” itu memang benar-benar suatu “kebenaran”. Meski arti obyektif-subyektif masih debatable, pengaruh psikologis itulah yang sering dimanfaatkan jadi mesin pembentuk opini.

Kadang terpikir di benak saya, dimana kita sering melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang kali kita lakukan.

Lalu kalau banyak orang bilang hanya keledai yang akan jatuh 2 kali ke lubang yang sama, nah kalau begitu apakah saya, atau diantara kita ada yang melakukan kesalahan yang berulang-ulang berarti lebih bodoh dari keledai donk wehehe..parah bener ya..hmm..kayanya ga dah (ngeles hahaha..).

Saat melihat keluar jendela dimalam hari, seperti berbisik;”Iya, kenapa saya melakukan hal itu ya? Mestinya kan tidak begitu.” Dan ketika memikirkannya dengan lebih seksama, ternyata bukan sekali itu saja melakukannya. Makanya, tidak mengherankan jika saya atau kalian sering bingung sendiri, namun, kok begitu sulitnya bagi kita untuk menghentikan kesalahan itu. Baik secara kita sadari ataupun tidak ternyata kesalahan itu kita lakukan lagi dan lagi..

Hmm..jadi salah di mananya ya..

Ada dua alasan mengapa terperosok kedalam lubang yang sama itu bukanlah suatu hal yang bagus tapi juga tidak lah buruk. Pertama, terperosok kedalam lubang yang sama menguatkan rasa sakit yang pernah kita alami sebelumnya.

Melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang juga demikian. Ketika kita melakukan kesalahan untuk pertama kalinya, mungkin akan mudah untuk mendapatkan maaf. Tetapi, jika kesalahan itu dibuat berulang-ulang? Anda mungkin saja sangat pemaaf, tetapi jika orang yang “harus” dimaafkan itu melakukan kesalahan yang sama terus-menerus, apakah pintu maaf itu selalu terus terbuka?, Sekali kita melakukan kesalahan. Mereka memaafkan. Untuk yang kedua kalinya?entahlah..

Kita tepat berada di mana kita berada, meski mungkin saat itu kita tidak bisa melihatnya. Kesalahan yang kita lakukan adalah bagian dari perjalanan kita, meskipun kita tidak suka melakukannya dan sudah pasti berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya. Semua adalah proses bagaimana kita berusaha menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya, untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama. Dengan melihat bahwa hanya karena sesuatu tidak terlihat sempurna tak berarti hal itu memang tidak sempurna.

Sedikit upaya untuk melepas simpul mata rantai lingkaran ketidaksempurnaan itu adalah belajar. Belajar mematangkan diri. Termasuk kematangan menyikapi ketidaksempurnaan orang-orang yang kita cintai. Sebagaimana pula pembelajaran kita untuk menyadari bahwa kita juga bukan pribadi yang sempurna. Proses belajar itu akan membawa kita kepada suatu pengakuan bahwa kita sebenarnya saling berbagi ketidaksempurnaan. Kenyataan itu harapannya tidak diselesaikan dengan berjalan sendiri-sendiri, tapi justru bersama untuk saling mengisi dan saling menyempurnakan.

Di sinilah peran penting kesadaran untuk mau belajar dan menperkaya pengalaman. Karena akan didapatkan di dalamnya pengetahuan yang akan mematangkan jiwa. Betapa banyak orang dengan fisik biasa, tidak good looking, tetapi mempesona karena pengetahuan, pengalaman, dan kematangan jiwanya.

Di Atas Awan, 26 Januari 2010, 20.30 Wita.
Memandang jauh ke luar jendela dimalam hari dengan dua bangku kosong disebelahku.