Memberi Manfaat Kepada Orang Lain, Bisa ga sih?

Cukup banyak “selentingan” yang saya sering dengar masalah tindak tanduk saya terutama dalam hal ‘kebaikan”, sengaja pake tanda kutip karena baik buat kita belum tentu dimaknai yang sama bagi orang lain hehehehe… =P

Ada yang bilang baik karena ada pamrih, ada yang bilang baik karena ada maunya aja, kalo ga ada kepentingan apa-apa ya biasa aja, ada juga yang bilang baik biar bisa eksis, ada yang bilang saya dimanfaatkan dan juga kadang ada yang bilang saya memanfaatkan, asas manfaat kalo temen-temen saya bilang hehehe…aduh..aduh..aduh..apa sih pikiran mereka ini hehe..

Dijaman makin gila kaya ini, memikirkan diri sendiri bisa jadi sudah merupakan warna paling kentara dalam keseharian kita. Padahal, memikirkan diri sendiri merupakan cikal bakal munculnya sikap mementingkan diri sendiri. Dan ketika seseorang sudah mementingkan dirinya sendiri; maka lupakanlah keberadaan sendi-sendi pengikat yang menghubungkan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Sebab, ketika setiap orang sudah mementingkan diri sendiri; tidaklah mungkin mereka bersedia mendengarkan suara yang sayup-sayup berbisik melalui hati nurani.

Jangan tanyakan lagi apa pedulimu kepada orang lain. Sebab, tanpa hati nurani, kepedulian kepada orang lain sudah dengan sendirinya berubah menjadi jenazah, yang tak mungkin kunjung bangkit hidup kembali. Sementara itu, dibelahan bumi kerontang hampir seribu lima ratus tahun yang lalu, konon seorang bijak berkata: Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Mungkinkah dijaman ini kita bisa menjadi manusia yang  itu?, apakah membantu itu ada indicator batasannya?coba kita pikirin baik-baik dehhh…

Tapi kalau misalnya kita ada kepikiran bahwa kita “Cuma” dimanfaatkan orang lain gmana coba..??, ya bagus donk kalo dimanfaatkan..weks..bagus dari mananya..??

Begini ya…

Misalnya, kalau kita bekerja karena kewajiban yang dibebankan, kita hanya akan mendapatkan gaji. Namun kalau kita bekerja dengan pelayanan, kita akan mendapatkan penghargaan. Penghargaan bisa berupa ucapan terima kasih, diperhitungkan atasan, idemu dipertimbangkan, bicaramu didengar, anjuranmu dilaksanakan, dikenal berbagai kalangan, peningkatan keahlian, tahu lebih dulu, prestasi, bonus dan yang pasti gaji. Penghargaan itu lebih besar daripada gaji. Maka dari itu besarkan kapasitasmu, layani sebanyak mungkin orang.

Contoh diatas bisa kita pakai buat kebaikan..??atau contoh diatas masih ada “semangat” pamrihnya…???apakah masih merasa terbebani dengan asas “pemanfaatan” orang lain…???

Contoh lain?hmmm…
Banyak lah. Tapi biar saja,coba rasa ikhlas dan rela. Katanya, “Kalau membantu orang jangan minta balasan.”, benar…??

Akui saja kalau kita sering terjebak dalam pandangan bahwa memberi sebuah kebaikan selalu berurusan dengan materi. Tidak lebih dari itu. Kita lupa, bahwa banyak hal non-material yang bisa kita berikan kepada orang lain. Dan itu memberi manfaat kepada mereka. Bahkan konon katanya, tersenyum saja sudah senilai dengan sedekah. Tentu saja senyum yang tulus. Lantas, jika ternyata Tuhan menyediakan ruang untuk memberi manfaat kepada orang lain itu melalui begitu banyak jalan.

Jika saya tidak punya uang, bolehkah saya memberi manfaat kepada orang lain dengan tenaga saya?, Jika saya tidak memiliki tenaga yang besar, bolehkah saya memikirkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain? Duh, maaf. Saya bukan orang pintar. Tak mungkin saya bisa berpikir sejenius itu. Bahkan nilai matematika saya saja berwarna merah; bolehkah saya memberi manfaat kepada orang lain dengan mengatakan kepada mereka; kamu orang yang hebat. punya bentuk tubuh yang indah. Tampan dan cantik juga menawan. Tidak. Saya tidak tampan. Jauh dari kata tampan. Bolehkah saya menampankan perilaku saya agar tak seorangpun terusik oleh tingkah dan langkah saya?

Tolong ijinkan saya untuk memberi manfaat kepada orang lain. Agar saya tidak kehilangan kesempatan untuk menjadi manusia sebaik-baiknya. Tolong. Karena bahkan saya tidak tahu bagaimana caranya. Tolong. Karena saya tidak memiliki apapun yang bisa diberikan kepada orang lain. Jangan tanya berapa pendapatan saya, karena bahkan sebelum tanggalan dikalender menuju ke tanggal tua hati saya sering gundah hhhooo…

Jangan tanya apa yang bisa saya kontribusikan karena bahkan selama ini saya masih mengharapkan seseorang datang dan menolong saya agar terbebas dari segala kesulitan. Saya mau. Saya mau memberi manfaat kepada orang lain. Tapi tolong. Saya tidak tahu bagaimana melakukannya. Tetapi, jika itu boleh dengan sesuatu yang bukan uang, mungkin saya bisa. Iya. Setidaknya, saya akan memberi manfaat kepada orang lain dengan cara tidak membuat mereka menjadi sulit. Jika saya tidak membuat orang lain susah; apakah bisa diterima itu sebagai pemberian bagi mereka? Jika saya tidak menjadikan orang lain kesulitan karena saya.

Bukankah saya boleh mengatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah orang yang tidak menyulitkan orang lain. Ah, entahlah. Itu urusan Tuhan saja. Jika Tuhan setuju, mungkin saya bisa menjadi sebaik-baiknya manusia, dengan tidak menyulitkan orang lain. Barangkali. Sebut saja itu cara paling murah. Paling lemah. Tapi, belum tentu selalu paling mudah.

Dan ketika seorang manusia mampu memberi manfaat kepada orang lain, maka tak akan pernah ada kebencian dihati orang-orang kepadanya. Selalu ada maaf, bahkan ketika dia belum hendak memintanya. Selalu ada pengampunan, bahkan jauh sebelum dia melakukan kesalahan. Selalu ada. Selalu ada. Selamanya.

Banjarbaru
28 Mei 2010, 00.39 Wita