Sebuah Renungan, Berbaik Sangka…

Beberapa hari belakangan dalam kehidupan saya banyak sekali hal-hal tentang masalah pribadi yang kadang menggangu pikiran dan membuat saya tidak focus dan susah berkonsentrasi.

Kehidupan berawal dari sangkaan yang berwujud pada kenampakan jiwa, semangat dan harapan. Setiap manusia didalam kehidupannya memerlukan dirinya dan diri orang lain. Keterikatan yang saling bergantung dan kebergantungan mengakibatkan sebuah harmonisasi keefektifan dari kehidupan itu sendiri.

Pertanyaannya adalah sampai sejauh mana sangkaan diri anda terhadap orang lain hingga saat ini?. Dan kenapa sangkaan-sangkaan itu berujung pada kesimpulan bahwa berprasangka memainkan peranan yang dominan dalam hubungan intareksi dua manusia?.

Dan pastinya juga, sangkaan bisa menimbulkan konflik yang berujung pada kebencian, kekesalan atau apapun lah itu namanya. Pernah diri ini berburuk sangka terhadap orang lain, namun sangkaan itu hanya membawa kepada perselisihan yang nota bene GA PENTING dan sama sekali ga substansial, hal-hal sepele aja pake pikiran neting segala hoho.. payah lah hhee…

Ada saatnya kita jatuh, kita mengalami situasi yang benar-benar tidak mengenakan, pahit, pedih, kesel, marah dan sungguh menyakitkan. (lebay ya wokokoko…)….

Cobalah untuk merenung, menunduk dalam, menghayati segala langkah dan perjuangan yang telah dilakukan… lalu mendongak setinggi-tingginya ke atas, melihat langit dan pejamkan mata, bahwa ada DIA yang selalu menemani, mengiringi, dan membimbing arah kita. tanamkan dalam hati bahwa segala yang kita lakukan adalah bukan untuk kesia-siaan. Segala yang kita kerjakan adalah sebuah langkah menuju perubahan.

Saya pernah bertemu dengan orang yang sudah tua tapi masih terlihat segar. Badannya segar serta jalannya masih tegap. Sempat saya tanya berapa usia bapak itu dan apa rahasianya. Jawabnya 72 tahun. Kata bapak itu, bukan karena terlalu banyak makan yang bergizi. Tapi, karena dia selama ini berusaha hidup jujur, sabar dan berbaik sangka dengan orang lain.,,Subhanallah..

Berlatih memainkan jalan pikiran anda, yang anda lihat tidak harus selalu kita tarik kesimpulan, sehingga yang keluar dari sikap, dan perkataan anda berjalan pada jalur kebaikan, baik untuk diri anda dan orang lain. Bukan dengan mengira-ngira hal yang belum tentu benar dengan persepsi diri kita…

Banjarbaru, 19 Mei 2010
00.30 Wita